Aaron Swartz and his bullet proof idea

Tulisan ini disadur ulang dari tulisan saya sendiri, 11 Maret 2013

http://www.heavy.com/news/2013/01/aaron-swartz-family-prosecutorial-overreach/

Coba lihat senyum pemuda diatas, apa terlintas kata tulus di benak anda? Pemuda berumur 26 tahun itu mati gantung diri pada 11 januari lalu di Apartemennya di Brooklyn, New York. Pernahkah anda mendengar nama Aaron Swartz sebelumnya? Jika belum, anda tidak perlu khawatir dicap berwawasan rendah. Mungkin tidak lebih dari sepersepuluh dari 240 juta penduduk Indonesia yang sudah mendengar kisahnya. Saya sendiri baru beberapa bulan yang lalu mendengar namanya dan hari ini saya memutuskan… Yah, untuk menulis kisahnya. That’s all what I can do for you, Aaron…

Mungkin pemerintah Amerika lupa, ketulusan memiliki kemampuan hebat untuk menggerakkan. Upacara pemakamannya di Central Avenue Synagogue di Highland Park, Chicago ternyata hanya mampu mengubur jasadnya. Pemikirannya semakin bergema, khususnya di kalangan netizen, dunia tanpa batas… Internet. “Aaron dead. World wanderers, we have lost a wise elder. Hackers for right, we are one down. Parents all, we have lost a child. Let us weep”. Sir tim barners-Lee, Inventor of the web.

http://mashable.com/2013/01/13/mit-aaron-swartz/

“There is no justice in following unjust laws” Aaron Swartz

Empat tahun yang lalu, Aaron menegaskan bahwa informasi, khususnya informasi pengetahuan. Harusnya tidak boleh dikuasai segilintir orang saja, khususnya di perpustakaan-perpustakaan universitas kelas satu di dunia saja. “Menyediakan karya ilmiah bagi universitas-universitas elite di dunia pertama, tapi tidak untuk anak-anak di dunia selatan? itu sama sekali tak pantas dan tak dapat diterima. Kalian dapat melahap jamuan pengetahuan itu, sementara di dunia luar tidak dapat masuk. Kalian tak dapat mengambil previlese itu untuk diri kalian sendiri, kalian berkewajiban membaginya kepada dunia.” Aaron Swartz.

Aaron memimpin gerakan ribuan orang untuk menggagalkan undang-undang SOPA, undang-undang yang diyakininya akan merampas kemerdakaan dalam mendapatkan informasi. Sebenernya, undang-undang yang diprakarsai oleh sejumlah musisi beken di Amerika ini dimaksud untuk menjaga hak cipta industri kreatif Amerika dari pembajakan. Tapi pada aplikasinya, Aaron menggambarkan undang-undang ini akan menjadi semacam borgol bagi kebudayaan publik (informasi), sehingga informasi tersebut tidak bisa dibagi kepada orang banyak.

Gerakan anti-SOPA itu berhasil, tapi tidak untuk Aaron…

“Be curious, read widely. Try new things. I think a lot of people call intelligence just boils down to curiousity” Aaron Swartz

(Boston Globe via Getty Images)

Januari 2011, Aaron ditangkap karena ketahuan mengunduh 4 juta dokumen dari kumpulan karya ilmiah yang disimpan di JSTOR (Mahasiswa tingkat akhir pasti tahu deh perpustakaan digital satu ini). Menggunakan jaringan dari MIT melalui sebuah laptop yang disembunyikan di lantai dasar gedung 16. Aaron mengunduh jurnal-jurnal ilmiah tersebut untuk dibagikan kepada siapa saja yang mebutuhkan tapi tidak memiliki akses kepada jurnal-jurnal penelitian tersebut, hal ini juga sebagai bentuk penentangan Aaron terhadap kebijakan JSTOR yang membayar penerbit dan bukan penulis karya jurnal ilmiah tersebut.

Kantor kejaksaan di Boston, menuduh tindakan Aaron sebagai tindak kejahatan (felony). melanggar 13 jenis peraturan, dan mendapatkan ancaman hukuman sampai 35 tahun penjara dan denda $4 juta dollar. Sebaliknya, pihak JSTOR dan MIT tidak menuntut Aaron, mereka beranggapan bahwa Aaron tidak melakukan hal tersebut untuk kepentingan komersial dirinya sendiri, lagipula pada akhirnya Aaron mengembalikkan semua yang ia ambil.

Mengutip hasil penyelidikan yang dilakukan oleh Alex Stamos, saksi ahli pada kasus US vs Aaron Swartz, “I know a criminal hack when I see it, and Aaron’s downloading of journal article from an unlocked closet is not an offense worth for 35 years jail”. Hasil penyelidikan internet forensik yang dilakukan Alex Stamos menunjukkan bahwa Aaron bukanlah seorang super hacker berbahaya yang mengancam JSTOR, MIT maupun publik. Dia hanya seorang anak muda cerdas yang menemukan sebuah loophole yang membuatnya mampu mendownload dokumen ilmiah tersebut secara cepat, bahkan celah ini sengaja diciptakan oleh MIT dan JSTOR, dan dikodifikasi dalam tumpukan dokumen yang ditemukan selama pencarian diserahkan kepada pihak yang berhak.

http://jayrosen.tumblr.com/post/40486280670/if-someone-is-in-need-of-knowledge-and-you-can

“Information is power. But like all power, there are those who want to keep it for themeselves.” Aaron Swartz

Coba tebak siapa bocah berusia 14 tahun pada foto diatas yang sedang berbincang dengan profesor dari Harvard, Larry Lessig? Yup itulah Aaron kecil, remaja berbakat yang seluruh hidupnya ia dedikasikan untuk hal yang ia dan saya yakini benar, bahwa informasi pengetahuan adalah hak setiap orang dari seluruh penjuru dunia untuk mengaksesnya. “Aaron sangat, sangat ingin mengubah dunia. Ia inginkan itu lebih dari uang, ia inginkan itu lebih dari kemashyuran”. Taren Stinebrickner-kauffman, kekasih Aaron.

Sejarah mencatat, tragedi selalu membutuhkan cukup bumbu kesedihan untuk dikenang. Aaron sudah mati, “everythings get colored by sadness”, post terakhir Aaron dalam blognya. Depresi membuat Aaron memutuskan untuk mengakhiri hidupnya lebih cepat. Tidak… Saya tidak akan menghakimi dia tentang jalan yang sudah ia pilih.

Satu hal yang pasti, pemikiran Aaron akan terus dikenang. Aaron adalah inspirasi saya, dan saya… juga semua orang yang memiliki akses kepada jurnal-jurnal ilmiah, adalah warisannya.

--

--

Working as Product Manager in Financial Technology industry

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store